Kamis, 26 September 2013

Cerpen-Memori yang Hilang


Memori yang Hilang
Zakia Prajani 
Rabu, 11 September 2013  03:23 WIB.
Ide cerpen berdasarkan berita VOA  dengan bubuhan fiksi 



Rumah sakit

“Dokter.....dokter......” Teriak seseorang dari kamar pasien.
“Ada apa Mary.....?” Sahut sang teman.
“Anne ini suatu keajaiban....pasien kamar 1314 sadarkan diri....” Kata Mary sang perawat itu girang.
“Ohya? Cepat panggil dokter  William....”
Perawat Mary segera memanggil sang dokter.

                                                            ----------

“Akhirnya aku pulang kerumahku juga....” Sahutku.
Sudah lama aku tidak pulang ke Indonesia. Aku meneruskan kuliah di University of Adelaide. Aku jarang sekali pulang kerumah itupun ayah dan bunda yang selalu kesini menjengukku tapi liburan kali ini aku akan memberi kejutan untuk mereka.
“Ayah....bunda Nessa pulang....” Teriakku tapi tak ada sahutan dari dalam.
“Ayah....bunda....” Ucapku sekali lagi tapi tak ada sahutan juga.
Akhirnya aku mencari kunci yang biasanya mereka tinggalkan di bawah pot bunga lili.
“Nah...ini dia....” Akhirnya aku bisa membuka pintu ini.
Ketika aku masuk rumah ini bau apek tercium dimana-mana. Aku menggerutu kenapa mereka tidak membersihkan rumah ini. Sekali lagi aku memanggil mereka tapi tetap tak ada sahutan begitu juga Bi Inah. Aku melihat keruang belakang juga tak ada hingga akhirnya aku menemukan sepucuk surat dimeja makan. Aku membacanya ternyata dari bunda.


Untuk Nessa.
Sayang,kami pergi keacara pernikahan anak Pak Burhan teman ayah. Bi Inah pulang kampung. Kalau kamu lapar beli saja diluar. Bunda tidak masak. Mungkin baru besok bunda dan ayah pulang jadi kamu hati-hati ya dirumah.
“Ya....bunda ini. Masa anaknya datang ditinggal pergi...” Kesalku.
Ya sudahlah....lebih baik aku membersihkan rumah ini dari sarang binatang. Tak terasa sudah hampir dua jam aku membersihkan rumah ini dan tiba saatnya perutku berbunyi karena bunda tidak menyiapkan makan akhirnya aku terpaksa membeli nasi goreng didekat warung langganan bunda.
“Bang...nasi gorengnya satu ya...” Kata pada penjualnya.
“Iya Neng...tunggu sebentar ya....”
“Iya Bang ngga apa-apa. Ohya Bang..kenal sama Pak Karim?” Tanyaku.
“Iya kenal, Neng. Dia kan bapak saya...?”
“Ohya? Terus kemana sekarang pak Karimnya kan biasanya bapak yang jual?”
“Bapak sudah meninggal, Neng...”
“Masa? Bukannya kemarin masih Pak Karim yang jual?”
“Ah...Neng ini ada ada saja. Salah lihat mungkin,Neng...”
“Tapi wajahnya sama,Bang...”
“Iya ngga mungkin, Neng. Bapak saya sudah meninggal lama kok...”
“Iya mungkin saya salah lihat. Ohya berapa, Bang....” Kataku saat penjualnya sudah selesai.
“Tujuh ribu neng...”
“Naik ya, bang harga nasi gorengnya...” Kataku saat menyerahkan uang.
Si penjual nasi goreng bingung.
“Terima kasih ya, Bang...” Ucapku sambil melangkah pergi.
            Rupanya nasi goreng ini rasanya lebih enak Pak Karim yang membuatnya. Aku heran bukannya aku meninggalkan rumah selama tiga bulan begitu cepatnya nasi goreng ini harganya naik. Beberapa bulan yang lalu aku  beli masih empat ribu. Mungkin penjualnya masih baru. Setelah selesai makan akupun segera membaringkan tubuhku ditempat tidur.
“Ayah ...minggu depan Ananda pulang.”
“Iya sayang .....kami tunggu kedatanganmu”
            Aku terbangun karena mimpi yang aneh. Tak terasa pagi sudah datang. Aku segera mandi dan menonton berita sebelum mencari makan.
“Arif sang tersangka penabrak lari yang menewaskan puluhan jiwa sepuluh  tahun yang lalu berhasil ditangkap....” Kata sang penyiar.
Aku menyaksikan berita ini dengan serius.
“Kecelakaan yang menewaskan seluruh korban Bus Patas sepuluh tahun yang lalu............” Lanjut sang penyiar.
“Wah...wah...baru tertangkap sekarang? Sepuluh tahun yang lalu  aku masih SD” Batinku.
“Hari ini aku akan makan apa ya? Untung masih ada sisa uang bulananku....”
Akhirnya aku membeli makanan karena perutku sudah berbunyi saat aku menutup pagar aku melihat semua orang memandangku aneh. Mungkin mereka baru melihat aku....
“Bu,beli lauknya saja...” Kataku saat sampai diwarung depan sekolahku dulu.
“Berapa, Neng...” Tanya sang ibu penjual.
“Lima ratus saja,bu...”
“Dua ribu saja ya,Neng. Sekarang ngga ada lauk lima ratus...” Sahut  sang penjual.
“Ya ngga apa-apa,Bu...”
“Neng,tinggal dimana kok baru kelihatan sekarang...” Tanya sang penjual.
“Dijalan Mawar 20. Saya anaknya Pak Sungkono,Bu....”
Semua orang terkejut mendengar perkataan Nessa.
            Aneh...benar-benar aneh setiap orang disini. Baru saja aku tinggalkan tiga bulan semua barang naik drastis dan yang lebih aneh semua orang saling berbisik saat bertatapan denganku. Memang ada yang salah? Menjelang malam ayah dan bunda belum juga datang. Aku kesepian lebih baik aku menelepon Ami. Teman sekolahku tapi kok telepon ini tak berbunyi. Mungkin ayah belum membayarnya dari pada kesepian lebih baik aku menonton saja. Tanpa terasa aku tertidur di ruang TV.
“Jangan pulang besok,nak. Cuaca masih kurang baik.....”
            Aku terbangun lagi karena mimpi yang aneh. Didalam mimpi aku melihat seorang ibu sedang menelepon anaknya memberi kabar  agar kepulangannya ditunda.
“Sudah jam lima pagi tapi ayah dan bunda belum juga datang. Kemana sih mereka?” Kataku sebal.
            Lebih baik aku meyegarkan tubuhku dengan air hangat. Saat aku mandi terdengar suara dari dapur. Mungkin ayah dan bunda sudah datang. Ternyata benar itu mereka.
“Bunda....kok baru datang sekarang....”
Tidak ada sahutan.
“Bunda...ditanya kok diam. Sakit ya....”
Bunda hanya mengangguk saja.
            Akupun tak ambil pusing seperti biasa bunda diam kalau lagi sakit atau bertengkar karena ayah.
“Bunda ,ayah dimana...?”
Bunda hanya menunjuk kearah taman.
“Bunda kalau lagi bertengkar dengan ayah tidak apa-apa tapi jangan Nessa didiamin gitu dong...” Kesalku.
Sekali lagi tidak ada sahutan.
“Ayah....Nessa dari kemarin disini tapi kalian malah pergi sampai dua hari....” Kataku sambil memeluk ayah dari belakang tapi tubuh ayah terasa dingin.
“Ayah juga sakit ya...” Tanyaku.
Ayah hanya tersenyum.
“Ayah ditanya kok seperti bunda sih diam aja...”
“Jangan-jangan kalian tengkar ya...”
Ayah hanya menganngguk dan sekali lagi diam.
“Uh....kalian ini diajak bicara ngga ada jawaban...” Gerutuku.
            Dari pada aku sebal lebih baik aku jalan-jalan saja sambil berolah raga dipagi hari. Udara dipedesaan lebih menyenangkan dari pada dikota besar. Saat aku melewati sebuah rumah tempat tinggal Mimi teman baikku waktu kecil aku pun mampir.
“Selamat pagi.....” Sapaku.
“Iya...siapa ya....?” Sahut orang dari dalam.
“Bu Wijah ya...” Kataku.
“Iya...Neng siapa ya...?”
“Ya ampun ibu lupa sama saya...”
Bu Wijah menatap Nessa penasaran.
“Saya  Nessa. Anaknya Pak Sungkono...”
Bu Wijah menunjukkan wajah yang ketakutan.
“Kok ibu diam saja.....”
“Ngga mungkin....ini hanya mimpi....” Kata bu Wijah sambil masuk kedalam rumah dan menutup pintu dengan keras.
“Siapa Bu....” Tanya suara dari dalam rumah.
“Nes.....nes...nessa....,Mi...dia kembali...”
Suara piring terjatuh karena mereka semua terkejut melihat Nessa diluar.
            Aku yang masih diluar mendengar pembicaraan mereka. Apa yang mereka maksud Nessa kembali? Bukannya aku baru meninggalkan desa ini sudah hampir tiga bulan yang lalu tapi mengapa mereka seakan-akan melihatku seperti hantu? Ada apa denganku?
“Ayah....bunda...” Panggilku setelah sampai rumah.
Tak ada sahutan.
“Ayah...bunda kalian dimana...?” Panggilku lagi tapi tetap tak ada sahutan.
“Uh...mereka ini pergi lagi tapi tak ada pesan....” Keluhku
Merekapun tidak meninggalkan makanan untukku. Ada apa dengan mereka? Semua serba aneh disini. Ayah dan bunda saling berdiam diri. Mereka bahkan tak bicara sepatah katapun.
“Lebih baik aku tidur siang saja....daripada mikirin ayah dan bunda...”
“Nak,bunda mohon tunda dulu kepulanganmu. Bunda punya firasat ngga enak...”
“Bunda,jangan tahayul. Ananda tidak bisa menunda karena tiket sudah ditangan....”
“Tapi nak....tiket kan bisa dibeli lagi...”
“Sudahlah bunda. Ananda akan pulang besok....”
“Tapi bunda takut,nak...”
“Ngga usah takut,bunda. Pokoknya ananda tunggu dibandara besok untuk dijemput...”
Aku berkeringat dingin. Baru kali ini mimpiku jelas. Didalam mimpi aku melihat bunda sedang menelepon dengan seseorang. Ananda? Siapakah dia? Apa aku mengenalnya? Ayah dan bunda hanya mempunya satu anak saja. Yaitu hanya aku. Siapa Ananda itu?
Sudah satu jam aku tertidur dan perutku sudah bernyanyi untuk diisi. Saat aku membuka tudung nasi ternyata tidak ada makanan. Bunda hanya duduk-duduk saja ditaman . Mau tak mau aku harus membeli makan diluar karena bunda tidak masak sedangkan ayah lagi pergi.
“Bunda....Nessa beli makan dulu...”
Bunda hanya mengangguk saja.
“Diam lagi diam lagi....” Kesalku.
Karena warung sebelah rumah tutup akhirnya aku mencari didepan sekolahku dulu. Lagi-lagi semua orang melihatku aneh tapi aku hiraukan.
“Bu,nasi sotonya satu...”
“Makan sini atau bungkus,neng...?”
“Makan sini saja,bu sama teh hangat....”
Aku makan dengan lahap karena sejak pagi aku tak makan. Saat aku makan aku mendengar pembicaraan bapak-bapak mengenai ketua RT kami.
“Jang,kamu tahu pak RT kita. Pak  Wijaya?” Ucap sang bapak.
“Iya memang mengapa?”
“Beliau selingkuh loh...?”
“Ah masa?”
Pak Wijaya? Bukannya RT desa ini pak Umar kok cepat sekali penggantiannya. Bukannya masa jabatannya masih lama?
“Berapa, Bu?” Tanyaku selesai makan.
“Sepuluh ribu,Neng...”
Aku merogoh uang dikantung celanaku dan memberi uang kepada penjualnya.
“Pak,bukannya RT desa ini Pak Umar...?” Tanyaku pada bapak disampingku sebelum pergi.
“Pak Umar? Ya bukan, Neng. Kan sudah diganti?” Jawabnya sambil menatapku aneh.
Ya ampun mengapa aku baru pergi tiga bulan semua sudah berubah. Harga seporsi soto yang tiga bulan lalu masih dua ribu sekarang malah naik drastis dan pak RT yang sudah diganti. Aku penasaraan dengan ini semua. Lebih baik aku tanya bunda saja....
“Bunda....ada dimana?” Teriakku dari luar.
Tapi tak ada sahutan.
“Bunda...dimana sih?”
Tetap tak ada sahutan.
Tok...tok.....
Ada ketukan dari luar dan aku segera membuka pintu ternyata Bu Wijah dan warga yang lain.
“Ada apa ya.... Ayah dan bunda saya tidak ada dirumah sekarang...?”
“Apakah anda anaknya pak Sungkono?” Tanya Pak RT.
“Iya Pak. Benar.....Ada apa ya, Pak?”
“Anda itu Ananda ya...?”
“Bukan saya bukan Ananda tapi Nessa....”
“Kami yakin anda itu Ananda...?”
“Pak saya itu Nessa bukan Ananda. Mungkin bapak  dan ibu salah orang?”
“Ngga kami tidak mungkin salah orang....anda itu Nessa Ananda Sungkono kan...”
“Iya betul itu nama saya...”
“Ya ampun ternyata kamu masih hidup,Nak..?” Sahut Bu Wijah.
“Masih hidup? Maksud bapak ibu apa?”
“Kamu ngga ingat kejadian yang menimpa kamu,nak?” Tanya Pak RT.
“Kejadian apa ya....?”
“Nak,sepuluh tahun yang lalu kamu dinyatakan hilang dalam kecelakaan.....”
“Kecelakaan? Sepuluh tahun yang lalu? Tunggu.....maksudnya apa? Saya tidak tahu....”
“Tunggu ayah dan bunda pulang saja. Biar bapak dan ibu bisa tahu bahwa saya baru pergi dari desa ini tiga bulan lalu?” Lanjutku kesal.
“Nak,mungkin kamu mendengar kecelakaan yang penabraknya baru tertangkap sekarang...........?” Kata Pak RT.
“Iya saya baru melihatnya kemarin lusa tapi apa hubungan dengan ini semua?”
“Penumpang yang tewas salah satunya adalah orangtuamu waktu mereka menjemputmu karena mereka mendengar ada tabrakan pesawat tapi mereka tewas ditengah perjalanan....” Jelas sang RT.
“Itu tak mungkin Pak...Tadi pagi mereka masih disini...lagipula orangtua saya tak mungkin naik bis menjemput saya?”
“Memang mereka tidak naik bis tapi mereka naik mobil. Dipersimpangan jalan ada bis yang mau belok sedangkan mobil yang dikendarai ayahmu didepan tapi tiba-tiba ada sebuah truk yang lewat ditengah jalan dan terjadilah kecelakaan itu. Semua penumpang bis itu terbalik dan mobil ayahmu jatuh kesungai...”
“Ah......itu tak mungkin. Kalian pasti bercanda” Kataku tak percaya.
“Itu benar,nak.  Mereka pergi dengan tergesa-gesa mendengar pesawat yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan sepuluh tahun yang lalu...”
“Itu tak mungkin. Aku tak percaya...ini semua bohong. Lebih baik kalian pergi...” Kataku sambil menutup pintu.
Aku segera berlari kekamarku dan menangis karena aku tak percaya ini semua. Bukannya aku baru pergi tiga bulan lalu? Aku sadar bahwa ada bukti yang membenarkan ini semua. Surat yang ditinggalkan bunda. Aku membacanya kembali tapi aku terkejut.

Untuk Nessa
22 Februari 2000
Sayang,kami pergi keacara pernikahan anak  Pak Burhan teman ayah. Bi Inah pulang kampung. Kalau kamu lapar beli saja diluar. Bunda tidak masak. Mungkin baru besok bunda dan ayah pulang jadi kamu hati-hati ya dirumah.
Akupun segera berlari seperti kesetanan. Aku ingin membuktikan bahwa mereka salah. Aku akan bertanya setiap orang dijalan. Tahun berapakah sekarang? Dan mereka semua menjawab bahwa sekarang adalah tahun  2010. Aku menangis....kalau sekarang tahun 2010 kemana aku sepuluh tahun yang lalu? Tiba-tiba aku teringat aku pernah ada dirumah sakit aku segera berlari kesana.
“Suster...masih ingat dengan saya...?” Tanyaku saat sampai seperti orang kesetanan.
“Iya tentu semua orang disini mengenal anda?” Sahut suster Mary.
“Suster tolong katakan padaku...sekarang tahun berapa?”
“Mbak,sekarang tahun 2010”
“Itu tak mungkin....”
“Itu mungkin saja mbak karena mbak mengalami koma sepuluh tahun karena kecelakaan....”
“Koma? Jadi selama sepuluh tahun ini aku koma?”
“Iya mbak. Selama sepuluh tahun ini mbak ada dirumah sakit dan tidak ada satupun keluarga yang menjenguk...”
“Kalau saya mengalami koma mengapa nyawa saya masih dipertahankan...”Isakku.
“Mbak,ngga boleh berkata seperti itu. Kami tidak bisa melakukannya karena kondisi jantung mbak masih baik waktu itu jadi kami tidak bisa melakukan itu...” Kata suster Mary memeluk Nessa.
“Buat apa saya harus hidup kalau saya harus kehilangan kedua orangtua saya?” Aku menangis.
“Yang sabar ya mbak...” Sekali lagi suster Mary memeluk Nessa.
Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian itu dan mimpi yang aku alami. Aku ingat bunda meneleponku untuk menunda kepulanganku ke Indonesia tapi aku membantahnya dan mengapa semua orang memandangku aneh. Aku jadi sadar mengapa ayah dan bunda yang aku temui hanya berdiam dan berwajah pucat juga dingin ternyata mereka sudah meninggal. Aku jatuh tersungkur dan menangis. Andai saja aku mendengar perkataan bunda. Aku menyesal.....




------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar