Sabtu, 05 Februari 2011

ET-9 Flyer project


ET-9 Project

Talk about a friendship and a cooperative, menurut gw hari ini gw udah nemuin dua hal itu. Yup ! sesuai dengan judul posting-an diatas, hari ini our English class (ET-9) dapet project untuk buat bikin flyer tentang suku-suku pedalaman di Indonesia.

Dikelas, ada 3 kelompok. Kelompok satu anggotanya mbak Yoan, Putu, sama Riska. Kelompok dua anggotanya Gamal, Alia, sama Aqin. Nah kelompok tiga ini anggotanya Cuma dua orang, Cuma gw (Zakia) sama Rico.

Even like that, kelompok tiga paling cepet selesai. Walaupun ngabisin waktu les seharian, tapi hasilnya ga ngecewain sama sekali. Semua kelompok kompak, kita juga rela lesehan buat nyelesainnya hahaha..

                             ini mbak Yoan sama Riska ^^

                                    ini Gamal lagi nge-design


                             ini gw sama Rico 

after all completed, ini lah babak penentuan siapa pemenang dari tiga 
kelompok tadi. Setiap anak dibagiin kertas yang bentuknya tanda panah. Setiap anak harus nentuin kelompok mana yang bikin flyer paling bagus & menarik, tapi ga boleh milih hasil karya kelompok sendiri. Caranya dengan nempelin tanda panah itu ke flyer pilihannya. Satu persatu anak pun nentuin pilihannya masing-masing.


                                 flyer kelompok gw yg belum jadi

Kalo gw milih plyer-nya kelompok Alia (kelompok 2) hihihi unik aja, di situ semuanya pernak-pernik sampe tulisan dibuat manual. Dan hasil akhirnya kelompok 1 dapet 2 poin, kelompok 2 dapet 2 poin juga, jadi mereka seri. Dan kolmpok gw, kelompok 3, dapet 4 poin + 1 poin dari Miss Septri (our teacher)hihihi.. yeah, the result kelompok gw pemenangnya.

                                    flyer kelompok  1

Eh tapi bukan berarti kelompok 1 sama 2 itu ga bagus. Malah menurut gw hasilnya bagusan punya mereka. Yeah, but that’s  the result. 

                                    flyer kelompok2
Well finally, semua flyer dipajang didinding kelas (Room 401) flyer gw sengaja ditempel di tengah-tengah biar semua bisa liat hohoho. Cool ! semuanya kreatif. 

                             suasana kelas

                              gw sama mbak Yoan

Yup ! ga kerasa 2 jam setengah abis, bel pun bunyi, semua anak keluar dari kelas mansing-masing. Tapi beda sama kelas kita, kita sengaja tetep didalem kelas, kita foto-foto diantara flyers yang udah ditempel di dinding, kedengerannya emang narsi, tapi forget it lah yang penting kita have fun. Wow, what a funny day ever ! hahaha..

Rabu, 02 Februari 2011

4 jadi 1

Yap kita emang udah beda. dari empat jadi satu. postingan ini memang ga butuh perhatian, karena kalo yang baca bukan orang yang bersangkutan ga akan ada yang ngerti arti tulisan ini.

lagian siapa yang mau baca ? hahaha..

dari hal yang paling kecil yah, apa kita pernah kekantin lagi ? pulang bareng ? main ? bahkan lo yang dulu selalu nanya ke gw hal yang ga penting sekali pun. tapi sekarang ? negor aja ga pernah. gw deket sama lo, tapi pas lo ga bisa kenapa lo ga nanya sama gw, kenapa harus nanya sama orang kepercayaan lo yang agak jauh tempatnya. berat ya buat nerima kekurangan gw ?

berat ngerasain kalo temen deket kita udah mulai ga bisa nerima kita. gw ga bisa bebuat banyak selain minta maaf. gw ga mungkin ngejauh, jujur gw ga suka sikap kalian yang kaya gini. lebih baik berempat dari pada masing-masing. masalah apa sih yang bikin lo ngejauh ? bilang aja. bentak-bentak gw juga gapapa, asal lo lega ngungkapin kekeselan lo sama gw. jangan cuma diem , itu lebih nyakitin. apalagi bahasa tubuh lo, itu nyakitin orang tiap kali gw coba deketin.

iya kok, ga usah diperjelas. gw tau gw punya banyak banget sifat yang ga lo suka. semua juga tau.

kita semua memang berubah. ga ada orang yang gitu gitu aja. tapi tolong ngertiin perasaan orang. "mulut itu senjata yang paling tajem". yap bener banget ! semua itu bermula dari lidah itu. lidah lo yang ngespresiin kalo lo ga bisa nerima gw.

ya, gw tau gw emang sok pinter. itu kan yang selalu lo pikirin ke gw ? gw biasa aja, gw ga pinter, wajar kalo ada guru nanya, dan gw jawab hampir semua pertanyaannya. (tuh kan sok pinter lagi) hahaha..

yaudah.. untuk orang yang merasa dan kalo udah baca ini, jangan marah ya. kita sebagai manusia kan wajar kalo ngungkapin kekeselannya ya kan ? lo juga boleh kok... silahkan hehehe

ok, terakhir, gw minta maaf yah semua v^^

Kamis, 20 Januari 2011

Cerpen-Catatan tertinggal


Catatan tertinggal
 
Gadis kecil itu akrab disapa Elena. Usianya baru menginjak 5 tahun. ia memiliki seorang adik perempuan bernama Maya. Maya baru berusia 4 tahun. Elena sangat menyayangi adiknya, ia selalu berusaha menjadi kakak yang baik untuk Maya.
Kemana pun Elena pergi, Maya selalu bersamanya. Elena adalah sorang gadis kecil yang riang, ceria, manis, dan ramah. Ia memiliki kulit yang putih bersih, rambut panjang yang sedikit pirang, dan kedua bola mata yang berwarna kecoklatan. Anggun sekali.
Tetapi, semua keceriaan Elena terhempas sudah, diusianya yang baru menginjak 5 tahun, ia difonis dokter mengidap kanker otak dan dokter telah memprediksikan bahwa Elena hanya dapat bertahan selama 135 hari lagi.
Awalnya gadis mungil itu tidak mengetahui bahwalah ia tengah mengidap penyakit yang siap merenggut nyawanya itu. Tetapi disuatu malam, ia tak sengaja mendengar percakapan bunda dan ayahnya. Elena memang masih kecil, tetapi daya pikirnya sudah melampaui batas pemikiran anak sebayanya, ia mengerti apa yang dibicarakan ayah dan bundanya dimalam itu.
Elena kecil yang tadinya berdiri tegap dibalik pintu kamar bundanya, seketika tersungkur dan menangis ketika mendengar perkataan ayah dan bundanya tersebut.
Mendengar tangisan anaknya, ayah dan bunda Elena segera menghampiri anak mereka. “sayang, Elena, kenapa nangis ?” Tanya bunda.
“aku takut kehilangan Bunda, Ayah, sama Maya, aku sayang kalian. Aku ga mau meninggal, Bun..” jawab Elena kecil
“tidak sayang, kamu itu kuat, kamu bakal kuat selamanya. Kamu harus percaya sama mukzizat Tuhan, bukan sama Dokter”.
“tapi Elena takut, Bun…”
        Mendengar perkataan malaikat kecilnya, ayah dan bunda Elena terhentak untuk memeluk Elena. Mereka berusaha menenagkan pikiran anaknya yang sedang kacau itu. Sampai tak terasa, tumpahan air mata Elena dan kedua orang tuanya pecah seketika, adik Elena, Maya, hanya diam membisu memperhatikan tingkah keluarganya. Mungkin ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
        Hari demi hari bergulir, keadaan Elena semakin melemah. Ayah dan bunda Elena sengaja mengambil cuti kerja selama beberapa bulan demi memberikan perhatian seutuhnya kepada putri sulung mereka, Elena.
        Setiap hari adalah keceriaan untuk Elena dan adiknya, Maya. Ayah dan bunda Elena setiap hari membawa mereka ketempat-tempat hiburan yang belum pernah Elena dan Maya kunjungi sebelumnya.
        Elena yang memang hobi melukis, selalu menggambarkan kegembiraan hatinya sepulang dari tempat-tempat hiburan tersebut. Ia melukiskan apa saja yang telah ia lalui bersama keluaga kecilnya. Lukisan yang sederhana dari tangan seorang gadis kecil yang malang, tak begitu indah, namun memiliki makna tersirat yang dalam dan setiap lukisannya yang telah selesai ia buat itu selalu ia pajang dikamarnya, tak heran jika kamar Elena penuh dengan warna-warni cat air.
        Tak terasa 99 hari telah Elena lalui tanpa mengenal waktu, fonis kematian pun semakin menghantui kedua orang tua Elena, mereka tak sanggup untuk melepas anak sulung mereka itu. Rasanya baru sebentar mereka bersama Elena, namun dengan 36 hari lagi mereka akan kehilangan sosok bidadari tersebut.
        Elena sungguh gadis yang berhati emas, ia selalu membagi keceriaannya pada seluruh orang didekatnya. Ia tahu bundanya menangis, maka ia selalu melukiskan bunga mawar merah muda yang akan ia berikan kepada bundanya tercinta tiap kali ia menangis. Di dalam lukisan bunga tersebut, Elena juga menyisispkan beberapa kata sederhana seperti “bunda tersenyumlah !” atau “bunda, Elena sayang bunda”.
        Bunda Elena hanya bisa tertegun menanggapi bidadari mulianya, ia selalu tersenyum pada Elena, padahal hati kecilnya menangis pilu. Ia tak percaya dengan fonis dokter, ia hanya percaya pada Tuhan. Karena ajal setiap manusia ada ditangan Tuhan. Tak henti-henti pula ia mendoakan Elena kecil, tangis yang menyertai disetiap doanya berharap akan dikabulkan oleh Tuhan.
        Dan inilah saatnya, saat yang tak pernah diharapkan oleh kedua orang tua dan adik Elena. Ini adalah hari yang ke 135, dimana dokter telah memprediksikan umur Elena pada hari ini.
        Tetapi, doa bunda Elena terkabulkan, Elena tidak pergi meninggalkan mereka. Hanya saja, kaki Elena sudah tak sanggup lagi untuk digerakkan, dan kedua pipi Elena berubah mengembung karena salah satu syaraf diotak Elena, telah rusak dimakan oleh sel-sel kanker yang semakin meluas.
        Sejak saat itu Elena harus menggunakan bantuan kursi roda jika ingin berpergian. “Bunda..” sapa Elena dihari ke 139-nya.
“iya, nak..”
“Bun, Elena takut ga bias ngelukis lagi..” ringik Elena.
“kamu bisa kok nak, coba kamu lukis wajah Bunda” rayu bundanya,
“aku ga bisa Bun. Aku ga bisa ngelukis wajah Bunda kalo Bunda nangis kaya gini.. aku ga suka Bunda nangis”
“engga, Bunda ga nangis sayang, Bunda tadi kelilipan aja kok”
“aku ga percaya ! pokoknya Bunda ga boleh nangis, aku ga suka liat Bunda nangis, Bunda cengeng, aku aja ga nangis, masa Bunda nangis !” lontar Elena polos.
        Bunda Elena hanya bisa tersenyum nakal menanggapi anaknya. Hari-demi hari ia selalu mencoba membuat Elena tertawa dengan berbagai cara. Ia tak ingin Maya, adik Elena yang baru saja mengenal kakaknya tersebut harus kehilangan.
        Dihari Elena yang ke-222, senyum Elena tak lagi tampak, ia mendadak koma. Seluruh keluarga Elena hanya dapat bedoa demi kesembuhannya.
        Dan kini tibalah sudah, dihari yang ke-225, Elena benar-benar tertidur untuk selamanya, ia tak bisa melukis kembali, senyumnya pun tak akan bisa ia bagi kembali untuk orang-orang yang sedang bersedih dihadapannya, dan ia tak bisa lagi menghapus air mata bundanya itu. Ya, elana telah pergi untuk selamanya dihari yang ke 225.
        Malaikat kecil itu telah meninggalkan berjuta kebahagiaan bagi orang-orang yang mengenalnya. Lukisan terakhir Elena yang bertema hati, telah dipajang di museum sebagai tanda penyemangat bagi anak-anak yang mengalami nasib seperti Elena.
        Lukisan tersebut, bermakna bahwa, walaupun Elena menderita dengan penyakitnya, ia mampu untuk terus mengukir senyum diwajah semua orang. Ya, fonois dokter salah, Elena tidak pergi dalam waktu 135 hari, ia pergi diharinya yang ke 225. Ajal itu ada ditangan tuhan, bukan dokter yang menentukannya. Dan didalam lukisannya itu juga, Elena berpesan bahwa kehidupan memang indah pada akhirnya.